Ketika melihat kesuksesan seseorang, rasanya kita tidak boleh melupakan proses yang telah dilalui oleh orang tersebut. Kesuksesan yang terlihat biasanya hanya sebagian kecil dari pengalaman. Kali ini, kita akan mendengar kisah Saeful Muharrom atau yang biasa kita kenal sebagai EVOS SAM13. Pria kelahiran 2001 ini sudah menjadi juara dunia Free Fire di usia muda lho, yuk simak kisahnya!

IPUL SUDAH BERKUTAT DENGAN DUNIA GAME SEJAK SEKOLAH DASAR

Kapten EVOS Fire yang sering disapa Ipul ini sudah berkutat dengan dunia ​game ​sejak kecil. Bahkan dia sudah menjadi “anak warnet” sejak duduk di bangku SD. Dia sempat bermain ​game seperti Ayo Dance dan Point Blank. Dia mulai bermain ​game mobile ​saat dia kelas 3 SMP dan yang pertama kali dimainkan adalah Mobile Legends. Namun, karena merasa ​skill-nya tidak meningkat dalam ​game ​ini, Ipul memutuskan untuk pindah haluan dan mencoba ​game Free Fire.

TERNYATA IPUL PERNAH MENJADI SEORANG KOKI LHO!

Sebelum menjadi pro player, Ipul sempat bekerja sebagai koki di sebuah cafe. Lalu setelah 3 bulan bekerja, dia mendapat tawaran dari Manay, ​Analyst EVOS Fire, untuk bergabung dengan timnya. “Saat itu aku masih mikir-mikir waktu ditawarin Bang Manay, karena masih kerja kan. Karena dia bilang kalau ngetim sama dia harus free, gak boleh sibuk (ada kegiatan lain). Nah aku mikir tuh, takutnya kalau uda keluar dari sini gak bisa dapet kerjaan lagi,” ujar Ipul. Namun, karena telah memiliki impian jadi pro player sejak lama, akhirnya Ipul memberanikan diri untuk mengambil tawaran tersebut.

SEBELUM BERGABUNG DENGAN EVOS, IPUL MENJADI BAGIAN DARI TIM CAPITAL ESPORTS

Dok. EVOS Esports

Setelah itu, Ipul bergabung dengan Capital Esports bersama Manay. Dari sini lah, Ipul mulai mengenal Regi dan juga Cupay. Bersama dengan Capital Esports, mereka mulai bermain di beberapa turnamen Free Fire. Saat itu, Ipul merasa kalau ​skill-nya masih di bawah di bawah rata-rata. Ipul dan teman setimnya pun sempat keteteran ketika menghadapi musuh-musuh yang kuat dan sudah terkenal lebih dulu di kancah Free Fire. Meskipun begitu, mereka tidak menyerah dan dengan tekad yang kuat akhirnya mereka bisa menjadi tim yang dianggap kuat oleh lawan-lawannya.

Karena kekuatan Capital Esports inilah, mereka mulai dilirik oleh EVOS Esports. “Awalnya EVOS menghubungi lewat Cupay dan kita juga sempat ngobrol sama Mas Dean (Head of EVOS Esports). Tadinya gak percaya tuh kita, beneran gak sih ini ditawarin EVOS. Terus besoknya dikabarin kita masuk EVOS,” ungkap Ipul dengan nada bangga. Dan sejak tahun 2018 akhir, Ipul pun resmi bergabung menjadi bagian dari EVOS Esports.

DAPET HADIAH RP 250 JUTA, MAMA IPUL MENGIRA ITU DUIT HARAM

Selalu menghabiskan waktunya dengan bermain ​game​ tentu saja menjadi masalah bagi orangtua Ipul. Orangtuanya pun sempat gak setuju saat Ipul memutuskan untuk melepas pekerjaannya sebagai koki dan lebih memilih game. Namun, karena tekadnya sudah bulat, Ipul memutuskan untuk tinggal di rumah Manay sementara untuk mengikuti turnamen. Berkat kerja kerasnya, Ipul dan tim berhasil meraih juara dalam tiga turnamennya yang diikuti saat itu. Lalu, Ipul memberanikan diri untuk pulang dan mempersembahkan kemenangannya tersebut pada orangtuanya. “Saat mengikuti FFIM Season 1, kita juara pertama kan. Terus aku tunjukkin tuh sama Mama kalau dapet uang Rp 250 juta. Dan dia gak percaya tuh, sampai telepon orangtua yang lain, takut kalau uang ini gak halal” jelas Ipul sambil tertawa. Dari situlah akhirnya, Ipul mendapat dukungan dari orangtuanya dan bahkan keluarga besarnya.

BANYAK TEMANNYA YANG GAK MEMAHAMI SUSAHNYA MENJADI PRO PLAYER

Ketika sudah menjadi ​pro player ​dan berhasil menjuarai turnamen dunia, gak sedikit dari teman-temannya yang menganggap Ipul sombong. Padahal, Ipul memang belum ada waktu untuk bertegur sapa dengan mereka dikarenakan jadwalnya yang padat. “Mereka gak tahu kalau jadi pro player gak hanya main game aja, tapi kita juga punya tanggung jawab untuk berlatih dan menjadi juara,” jelas anak kedua dari lima bersaudara ini. Ipul pun gak terlalu menanggapi komentar teman-temannya tersebut, cukup membalasnya dengan prestasi. Ya, bagi ​shot caller ​EVOS Fire ini, yang lebih tahu tentang dia ya dirinya sendiri, bukan orang lain.

IPUL BELAJAR DARI KEMENANGAN TIM BRAZIL (SAFFRON FINCH) DALAM AJANG FFSS 2019

instagram.com/evos.sam13

Tim yang menjadi panutan seorang Ipul adalah Tim Free Fire Brazil (Saffron Finch) yang berhasil menjuarai Free Fire Streamer Showdown (FFSS) 2019. Bagi Ipul, permainan mereka benar-benar mengandalkan otak, bukan hanya nafsu belaka. Mereka juga tahu kapan harus menyerang dan kapan waktunya kabur. Hal inilah yang membuat Ipul masih ingin terus mengasah skill-nya hingga bisa seperti mereka.

MELAWAN PRO PLAYER ADALAH PROSES YANG HARUS DILEWATI GAMER PEMULA

Menurut Ipul, sebagai pemula kita jangan pernah berhenti belajar dan gak perlu ragu untuk menyerang orang-orang yang memiliki skill lebih tinggi. “Kalau dulu aku lihat pro player justru tertantang untuk melawannya. Kalau anak-anak sekarang tuh kayak udah pesimis duluan kalau mau melawan mereka,” tutur Ipul. Melawan pro player menjadi sebuah proses yang harus dilewati seorang gamer untuk bisa menaikkan kemampuan bermainnya. Oleh karena itu, buat para pemula yang ingin jadi pro player, jangan ragu untuk melawan orang-orang yang skill-nya lebih tinggi dibanding kalian.

Kerja keras dan kemauan yang kuat, membuat seorang SAM13 bisa mencapai titik ini. Meskipun begitu, Ipul masih memiliki impian untuk membawa timnya kembali menjadi juara. Keinginan yang kuat ini tentu saja didasari karena adanya proses yang tidak mudah dan telah dilalui Ipul. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Ipul telah menjadi panutan untuk tim dan para fansnya karena bisa menghargai segala proses yang ada.


EVOS Esports site: https://www.evosesports.com

YouTube:   https://www.youtube.com/evosesports

Instagram: https://www.instagram.com/evosesports

Facebook:  https://www.facebook.com/teamEVOS